POKOK AQIDAH AHLUSSUNNAH (1)


image

Pokok-pokok Sunnah (Islam) disisi kami adalah: berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh para shahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam serta bertauladan kepada mereka, meninggalkan perbuatan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat, serta meninggalkan pertengkaran, meninggalkan duduk-duduk bersama pelaku hawa nafsu, dan meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam masalah agama.
Sunnah menurut Kami adalah atsar-atsar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Sunnah itu menafsirkan Al-Quran dan Sunnah menjadi dalil-dalil (sebagai petunjuk dalam memahami) Al-Quran, tidak ada qiyas dalam masalah agama, tidak boleh dibuat permisalan-permisalan bagi Sunnah, dan tidak boleh pula dipahami dengan akal dan hawa nafsu, kewajiban kita hanyalah mengikuti Sunnah serta meninggalkan akal dan hawa nafsu.

A. FAWAAID
1. Faidah Pertama yaitu Makna Sunnah

Makna Sunnah secara bahasa thoriqoh. Sedangkan makna Sunnah secara istilah memiliki beberapa pengertian dilihat dari bidang ilmu yang sedang dibahas. Sunnah menurut ulama aqidah dan juga yang dimaksud oleh Imam Ahmad Bin Hanbal dalam awal matan ini yaitu :
– Sunnah lawan dari bid’ah, lawan dari aqidah–aqidah yang menyesatkan dan menyimpang.
– Sunnah artinya agama atau aqidah. Dengan demikian terkadang para ulama menamai buku–buku aqidah dengan nama As-     Sunnah, contohnya As-Sunnah karya Imam Ibnu Abi Aasif dan As-Sunnah karya Imam Ahmad Bin Hanbal.
– Jika sedang membahas hadits maka Sunnah maknanya adalah hadits yaitu atsar-atsar yang diriwayatkan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam baik ucapan, perbuatan, taqrir ataupun budi pekerti dan sifat fisik beliau.

2. Faidah Kedua yaitu Dalil Wajib Mengikuti Apa yang Ditempuh Para Sahabat dan Berpegang Teguh Dengannya

Dalil wajib mengikuti apa yang ditempuh para sahabat dan berpegang teguh dengannya terdapat dalam Surat An-Nisaa’ ayat 115 :

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS: An-Nisaa: 115)

Ayat di atas bermakna Allah menyebutkan bahwa siapa yang mengikuti selain jalan kaum mukminin maka akan dimasukkan ke dalam Jahanam dan kaum mukminin di zaman Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang paling terdepan di barisan kaum mukminin adalah para shahabat radhiyallaahu‘anhum.

3. Faidah Ketiga yaitu Langkah Yang Ditempuh untuk Tetap Tegar Berpegang Teguh pada Manhaj Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum

Langkah yang ditempuh untuk tetap tegar berpegang teguh pada manhaj para shahabat yaitu :
– Menghadiri majelis–majelis para ulama, para kyai, para ustadz yang berpegang teguh pada manhaj para shahabat.
– Mempelajari dan merenungkan sirah nabawi. Karena sirah nabawi tidak hanya berisi kisah Nabi kita Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tapi juga sikap para shahabat radhiyallaahu ‘anhum.
– Membaca kisah–kisah para shahabat radhiyallaahu ‘anhum untuk diteladani.
– Bergaul bersama orang–orang yang konsisten mengikuti manhaj para shahabat radhiyallaahu ‘anhum supaya sesuai dengan akhlak para shahabat radhiyallaahu ‘anhum.
– Berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa agar diteguhkan di atas aqidah dan manhaj para shahabat radhiyallaahu ‘anhum.

4.Faidah Keempat yaitu Bid’ah

Pokok aqidah ahlus-sunnah wal-jama’ah adalah meninggalkan bid’ah. Bid’ah secara bahasa mencakup hal–hal yang bukan kesesatan. Namun bid’ah secara istilah semua bid’ah adalah sesat. Jika ada ulama yang membagi bid’ah ini wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram maka berarti ulama tersebut memasukkan bid’ah secara bahasa. Adapun secara istilah yang masyhur yang dijelaskan oleh Imam Assyatibi yaitu meninggalkan bid’ah hukumnya wajib karena Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Artinya : “Semua bid’ah itu sesat.”

5. Faidah Kelima yaitu Meninggalkan Perdebatan dengan Tokoh Kesesatan serta Tidak Bergaul dengan Mereka

Jangan sekali–kali ahlus-sunnah wal-jama’ah berdebat dan bergaul dengan ahlul-bid’ah. Berdebat dengan ahlul-bid’ah mempunyai beberapa madharat yaitu:
– Membuat ahlul-bid’ah merasa mempunyai posisi karena ulama ahlus-sunnah wal-jama’ah menanggapi syubhat mereka.
– Semakin popular ucapan ahlul-bid’ah.
– Khawatir syubhat ahlul-bid’ah masuk dalam hati yang mendebat. Hal ini yang ditakutkan para ulama mendebat ahlul-bid’ah.
Dalam kaidah asal jika dalam keadaan darurat hanya ulama saja yang boleh menjelaskan tentang kekeliruan ahlul-bid’ah. Untuk orang awam harus menjauhi perdebatan dengan ahlul-bid’ah.

6. Faidah Keenam yaitu Macam–Macam Sunnah

Macam–macam sunnah yaitu sebagai berikut :
– Ada yang berupa ucapan
– Ada yang berupa perbuatan
– Ada yang berupa taqrir. Salah satu contoh taqrir yaitu sebagian shahabat bertalbiyah ketika berhaji.
– Ada  juga  yang  berupa  perangai  budi  pekerti  seperti  Nabi  Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam orang yang paling dermawan (HR. Bukhori).
– Ada juga yang berupa sifat fisik seperti menurut Imam Malik dalam Al-Muwatha’ yaitu Rasul Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tidak tinggi sekali postur beliau dan juga tidak pendek.

7. Faidah Ketujuh yaitu Peranan Sunnah terhadap Al-Quran

Peranan Sunnah terhadap Al-Quran yaitu :

– Sebagai penegas
Al-Quran membawakan suatu hukum dan Sunnah mempertegas hukum tersebut. Contohnya dalam Surat Al-Maidah ayat 72

– Sebagai penjelas
Contohnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 43 menjelaskan tentang bagaimana shalat kemudian diperjelas dalam hadits riwayat Bukhori yaitu

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat shalatku”.

– Sebagai penasakh / penghapus
Contoh Surat Al-Baqarah ayat 180 hukum memberi wasiat bagi orang tua dan juga kerabat dinasakh / di hapus dalam hadits riwayat Tirmidzi yang artinya ahli waris tidak pernah ada wasiat.

– Sebagai pelengkap
Sunnah membawa hukum baru yang tidak ada secara rinci dan jelas dalam Al-Quran. Contohnya : hukum mentato

8. Faidah Kedelapan yaitu Diantara Qiyas Ada yang Tercela

Yang dimaksud disini bukan qiyas yang terkenal dalam fiqih, tapi qiyas yang fasiq yang hanya mencocokkan saja.

B. I’RAB

image

image

image

image

image

image

image

%d blogger menyukai ini: